Satu Atap Di Bawah Langit Ramadhan

Satu Atap di Bawah Langit Ramadhan

Satu Atap di Bawah Langit Ramadhan

Satu Atap di Bawah Langit Ramadhan

Di meja makan, Ayah sibuk menuangkan teh hangat ke gelas masing-masing, sementara Ibu baru saja meletakkan piring berisi kurma yang masih manis. Rio dan adiknya, Lala, duduk anteng sambil sesekali melirik ke arah jam dinding yang detaknya terasa lambat sekali. Begitu suara bedug terdengar dari TV, mereka serempak membaca doa, lalu berebut mengambil gorengan bakwan yang masih garing. "Pelan-pelan makannya, jangan langsung minum es biar perutnya nggak kaget," ujar Ibu sambil tersenyum melihat tingkah mereka yang lahap.

Selesai makan dan shalat Maghrib berjamaah, suasana rumah jadi makin sibuk karena semuanya bersiap pergi ke masjid. Ayah sudah rapi memakai sarung kesayangannya, sedangkan Lala sibuk mencari mukena bermotif bunga yang ternyata masih di jemuran. Rio membantu membawakan sajadah besar milik Ayah sambil memakai sandal jepitnya di teras. Mereka berjalan kaki bersama menembus udara malam yang mulai sejuk, sesekali menyapa tetangga yang juga keluar rumah dengan tujuan yang sama.

Masjid sudah terlihat benderang dari ujung gang, penuh dengan jamaah yang saling bersalaman di halaman. Begitu masuk ke dalam, Rio dan Ayah mencari posisi di barisan tengah, sementara Ibu dan Lala menuju area jamaah perempuan di balik tirai. Sambil menunggu adzan Isya, mereka duduk santai di atas karpet yang empuk, menikmati suasana ramai tapi tenang yang cuma ada setahun sekali ini. Rasanya benar-benar hangat bisa kumpul lengkap dan memulai ibadah malam bareng-bareng sebagai satu keluarga.

Ammabel Ersya Anindita (9E)

 

Share: