Idul Adha
Pelangi Setelah Badai Takbir
Pak Kasman, seorang pemulung tua yang hidup hanya dengan cucu satu-satunya, Laras. Di dalam lemari kayu yang sudah lusuh, tersimpan suatu rahasia besar bagi Pak Kasman. Sebuah kaleng biskuit logam yang warnanya sudah memudar dan dipenuhi bintik karat. Namun, bagi Pak Kasman, kaleng itu lebih berharga dari emas mana pun. Selama lima tahun, setiap keping receh lima ratusan dan lembaran dua ribuan hasil memulung ia selipkan ke sana, tujuannya hanya satu, Pak Kasman ingin namanya bersanding dengan enam orang lainnya di papan pengumuman masjid sebagai pengkurban sapi.
3 hari menjelang hari raya Idul Adha, Pak Kasman bersiap pergi ke pengurus masjid untuk menyetorkan uangnya. Wajahnya begitu berseri-seri. Namun, tak disangka Laras tiba-tiba mengalami demam tinggi dan sesak napas. Pak Kasman pun bergegas membawa Laras ke puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit karena infeksi paru-paru. Biaya pengobatan dan rawat inap di rumah sakit sangat mahal. Tangan Pak Kasman bergetar saat petugas rumah sakit menyebutkan angka yang hampir sama persis dengan jumlah uang di genggamannya. Ia menggenggam plastik hitam berisi seluruh isi kaleng biskuitnya. Pak Kasman pun tanpa ragu segera membayar biaya pengobatan cucunya. Setelah itu, dengan meneteskan sedikit air mata, ia segera menghubungi panitia qurban untuk membatalkan pesanan qurbannya di masjid
Pak Kasman terduduk di kursi tunggu koridor yang dingin. Kaleng biskuitnya kini benar-benar kosong, menyisakan ruang hampa yang sama besar di dadanya. Saat itulah, matanya menangkap sebuah tas tangan kulit berwarna cokelat tertinggal di kursi seberang. Ia membukanya, berharap menemukan identitas pemiliknya. Matanya terbelalak. Di dalamnya ada tumpukan uang merah yang rapi dan beberapa dokumen penting. Setan sempat membisikkan pikiran untuk mengambil selembar saja demi mengisi kembali kalengnya, namun Pak Kasman segera beristighfar. Ia bergegas menuju bagian pusat informasi.
Tak lama, seorang pria berpakaian rapi datang dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya begitu pucat, namun langsung berubah cerah saat melihat tasnya masih utuh di tangan Pak Kasman. "Alhamdulillah Terima kasih, Pak! Terima kasih banyak! Di dalam sini ada dokumen perusahaan yang harus saya serahkan esok pagi," ujar pria itu penuh syukur. Ia mencoba memberikan beberapa lembar uang sebagai imbalan, namun Pak Kasman menolak halus. "Saya mengembalikannya karena itu bukan milik saya, Nak. Bukan untuk dibayar." Pria itu terdiam, menatap pakaian lusuh Pak Kasman dan plastik berisi obat di tangannya. Setelah sedikit memaksa dan mengobrol, pria itu akhirnya mengetahui tentang Laras yang jatuh sakit dan "kurban yang tertunda" itu.
Hari raya Idul Adha tiba, gema takbir pun berkumandang. Pak Kasman bersiap menuju masjid dengan hati yang mencoba ikhlas, meski perasaannya tetap getir. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Pria dari rumah sakit itu turun, membawa seekor kambing jantan bertanduk gagah dan berbulu bersih. "Pak Kasman, Alhamdulillah, ini ada titipan rezeki dari Allah untuk Bapak, berupa seekor kambing jantan diperuntukkan buat kurban”, Nama Bapak sudah saya daftarkan di panitia kurban sebagai pemilik kambing ini," ujar pria itu sambil tersenyum tulus. Lutut Pak Kasman tiba2 terasa lemas. Ia bersimpuh di tanah, menyentuh rumput yang masih basah oleh embun. Ia baru menyadari satu hal, saat ia melepaskan "sapi" impiannya demi nyawa cucunya, Allah justru mengirimkan "domba pengganti" sebagaimana Ia mengganti Ismail untuk Ibrahim.
Pagi itu, di bawah langit yang biru, Pak Kasman tidak hanya berkurban dengan hewan ternak, tapi ia telah mengurbankan egonya, dan Allah membayarnya dengan tunai melalui cara yang tak pernah ia duga.
Karya: Jihan Fairuz Qurrota A’yun(7D)
