Kebangkitan Nasional Kebhinekaan

Kebangkitan Nasional/Kebhinekaan

Kebangkitan Nasional/Kebhinekaan

Kemuliaan Dibalik Kesengsaraan

Mentari pagi menyengat kulit legam Kirana yang berdiri kaku di antara deretan rumah megah bercat putih bersih. Di sekelilingnya, anak anak komplek dengan kulit seputih salju berlarian sambil melontarkan tawa yang menusuk hatin mungil Kirana. Kalimat ejekan tentang arang dan kotoran sudah menjadi sarapan sehari hari yang pahit bagi Kirana, membuat ia seringkali meratapi nasibnya sendiri dengan tangisan riuh. Kirana merasa seperti noda hitam di atas kanvas putih yang sempurna, sebuah kejanggalan yang tidak pantas ada di perumahan elit ini. Perasaan itu semakin memuncak ketika sebuah rahasia besar mulai terkuak, kenyataan bahwa Kirana hanyalah anak adopsi yang dipungut orang tua. Kirana mulai merasa dirinya adalah orang asing di rumahnya sendiri, merasa tak layak menghirup udara yang sama dengan orang tua angkatnya yang terhormat.

‎‎​Langkah kaki Kirana terseret seret ketika memasuki rumah, air matanya jatuh membasahi lantai marmer yang mengkilap. Di dalam ruang tengah, Kirana melihat foto keluarga di mana ia nampak begitu aneh diapit oleh ayah dan ibunya yang berkulit terang. Isak tangisnya pecah saat ia mengadu pada sang ayah tentang betapa perihnya menjadi berbeda di lingkungan yang seragam. Kirana merasa rendah diri, menganggap warna kulitnya adalah sebuah kutukan yang memisahkan dirinya dari anggapan cantik teman temannya. Bagi Kirana perbedaan adalah tembok besar yang mengurungnya dalam kesepian dan rasa malu yang tak kunjung padam. Hatinya hancur berkeping keping setiap kali membayangkan asal usulnya yang mungkin hanya berasal dari jalanan yang kumuh.

‎‎​Melihat duka sang anak, ayah Kirana berlutut dan menggenggam jari jemari kecil itu dengan penuh kasih sayang. Beliau berbisik lembut bahwa warna kulit Kirana adalah warisan kemuliaan yang tak dimiliki oleh siapapun di komplek elit ini. Ayahnya bercerita bahwa ayah kandung Kirana adalah seorang pejuang sejati yang kulitnya menghitam karena terbakar matahari saat berjuang membela tanah air. Hitam itu bukan kotoran, melainkan tanda jasa dari seorang pahlawan yang berdiri tegak demi tegaknya bendera merah putih di bawah langit yang terik. Kirana diingatkan bahwa Indonesia adalah rumah bagi segala warna, sebuah taman luas di mana bunga hitam dan putih tumbuh bersama dalam harmoni yang disebut Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan itulah yang membuat hidup menjadi berwarna, karena tanpa keberagaman dunia hanya akan menjadi tempat yang sunyi dan membosankan.

‎‎​Semangat Kirana kembali berkobar, ia merasa bangga membawa darah pahlawan di dalam nadinya yang mulai berdenyut kencang. Kirana keluar rumah dengan berapi api, siap menghadapi dunia dan menunjukkan bahwa berbeda itu adalah sebuah keindahan yang hakiki. Senyumnya mengembang lebar saat melihat anak anak lain kembali berkumpul, ia ingin menceritakan betapa spesialnya sejarah yang terukir di kulitnya. Saat itu, taman tidak hanya ramai dengan tawa tetapi juga dengan pemahaman baru. Kirana menyadari bahwa saat ia menerima dirinya sendiri, dunia pun akan melakukan hal yang sama. Keberagaman bukan lagi beban yang harus Kirana pikul sendirian, melainkan melodi indah yang ia mainkan bersama teman temannya dalam harmoni Bhinneka Tunggal Ika.

Karya: Diandra Aiman Alfathzha(8B)

Share: