Hari Koperasi
Sinergi di Balik Pintu Kayu Tua
Pagi itu, udara di desa Sukamaju terasa lebih segar. Spanduk bertuliskan “Selamat Hari Koperasi Indonesia ke-79” berkibar semangat di depan gedung tua yang menjadi pusat aktivitas warga. Hari ini adalah hari istimewa bagi Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Sejahtera, namun di balik kemeriahan acara, ada kegelisahan yang menyelimuti pengurus.
Pak Darma, ketua koperasi, duduk termenung di ruang kerjanya. Di hadapannya, setumpuk berkas laporan keuangan yang tidak seimbang menjadi sumber masalah. Selama beberapa bulan terakhir, minat warga untuk menabung di koperasi menurun drastis. Banyak anggota yang lebih memilih meminjam uang ke rentenir atau “bank keliling” karena prosesnya dianggap lebih cepat dan praktis, meskipun bunganya mencekik. “Jika dalam bulan ini kas kita tidak membaik, kita terancam tidak bisa memberikan sisa hasil usaha (SHU) yang layak, bahkan operasional koperasi bisa berhenti” gumam Pak Darma pelan.
Konflik memuncak saat rapat tahunan pagi itu. Beberapa anggota mulai melontarkan protes, “Pak Darma, kenapa bunga pinjaman kita masih terasa berat? Kenapa tidak dibuat lebih mudah saja?” teriak salah satu anggota. Suasana ruang rapat memanas. Ego dan tuntutan pribadi mulai mengalahkan semangat gotong royong yang seharusnya menjadi napas koperasi. Melihat suasana yang tak terkendali, Bu Sari, seorang tokoh perempuan yang juga penggerak UMKM lokal, berdiri dengan tenang. Ia tidak berteriak, namun suaranya yang tegas mampu meredam riuh rendah suara peserta rapat, “Bapak dan Ibu sekalian, koperasi ini bukan milik Pak Darma, bukan pula milik pengurus. Koperasi ini milik kita. Saat kita meminjam ke pihak luar, kita sedang memperkaya orang lain. Tapi saat kita meminjam dan menabung di sini, setiap rupiah yang kita keluarkan akan kembali kepada kita dalam bentuk SHU (Sisa Hasil Usaha) dan kesejahteraan bersama” Ucap Bu Sari.
Bu Sari kemudian mengusulkan perubahan sistem. Ia mengajak anggota untuk melakukan digitalisasi sederhana melalui aplikasi ponsel yang dikembangkan oleh pemuda desa, agar simpan-pinjam menjadi lebih transparan dan cepat. Ia juga mengajak warga untuk tidak hanya meminjam, tetapi aktif berbelanja kebutuhan pokok di toko koperasi. Seketika, ruangan menjadi hening, pesan Bu Sari menyentuh hati mereka. Semangat kebersamaan yang sempat pudar perlahan kembali muncul. Para anggota yang tadinya marah mulai melunak dan sepakat untuk berkomitmen kembali menghidupkan KUD dengan cara gotong royong, bukan sekadar menuntut keuntungan pribadi.
Hari Koperasi Indonesia tahun itu ditutup dengan pemotongan tumpeng sederhana. Tidak ada kemewahan, namun ada tawa dan optimisme yang terasa nyata. Pak Darma kini tersenyum lega. Ia menyadari bahwa koperasi bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang orang-orang yang saling menjaga di dalamnya. Di bawah langit senja, gedung koperasi tua itu tampak lebih kokoh. Hari ini, warga desa Sukamaju tidak hanya merayakan hari jadi koperasi, tetapi mereka merayakan kemenangan semangat gotong royong yang kembali menemukan rumahnya.
