Perdamaian

Perdamaian

Perdamaian

DI ANTARA RERUNTUHAN

Di suatu sore menjelang malam, angin berhembus pelan membawa debu yang bertebangan ke udara. Aku duduk di depan sebuah bangunan yang sudah tak layak bersama kedua orang tuaku. Kami mengobrol santai dan bercanda seperti biasanya, seolah dunia masih baik baik saja. Beberapa kali aku tertawa riang saat mendengar candaan demi candaan yang dilontarkan orang tuaku. Ini adalah momen kesukaanku bersama kedua orang tuaku.  Aku memandang wajah mereka yang begitu menenangkan, sambil menikmati momen yang ada. Waktu terasa begitu lambat, membuatku ingin terus berada di momen ini.

Perlahan, cahaya matahari mulai jatuh dari ufuk barat. Menyisakan warna jingga yang tampak begitu indah. Namun, keindahan itu seolah-olah hilang saat terdengar suara ledakan yang begitu keras hingga mengguncang sekitar. Tanah bergetar, bangunan bangunan roboh, hingga membuat suasana seketika berubah mencekam. Ayah dan ibuku langsung menggandeng tanganku dan mengajakku berlari entah kemana. Aku juga melihat banyak orang yang panik dan berlarian tak karuan. Aku mendengar teriakan orang orang, dan suara panik orang tuaku yang selalu menyuruhku agar tidak berpencar.

Aku terus berlari sambil menggenggam erat tangan kedua orang tuaku. Nafasku terasa berat, dadaku sesak karena asap dan debu yang memenuhi udara. Di sekelilingku hanya terlihat orang-orang yang berlarian, sebagian terjatuh, sebagian lagi berteriak memanggil keluarganya. Aku berusaha untuk tetap fokus, tapi langkah kecilku tiba tiba terhenti saat seseorang menabrakku dari samping hingga aku terjatuh. Saat aku mencoba bangkit, tanganku sudah tidak lagi digenggam oleh siapa pun. Rasa panik seketika memenuhi seluruh tubuhku. Segalanya terasa begitu cepat hingga aku tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik, mencoba mencari sosok ayah dan ibuku di tengah kerumunan. “Ayah, Ibu!” teriakku sekuat tenaga, namun suaraku seolah hilang begitu saja di antara teriakan orang orang. Air mataku mulai jatuh tanpa bisa kutahan, sementara kakiku tetap berjalan tanpa arah. Aku terus menyusuri jalan yang kini dipenuhi reruntuhan bangunan. Asap hitam masih mengepul di udara, dan suara ledakan terdengar semakin jauh. Setiap langkahku dipenuhi rasa cemas dan harapan yang bercampur menjadi satu. Aku terus berteriak memanggil mereka, berharap mereka mendengar teriakanku dan datang menghampiriku. Aku mulai merasa seperti kehilangan arah di tengah kekacauan yang tak terkendali.

Keadaan terlihat sudah lebih tenang, namun rasa takut di dalam diriku tidak juga hilang. Setiap langkahku terasa berat, aku masih terus mencari dan mencari keberadaan kedua orang tuaku. Pikiran buruk terus-menerus menghantuiku. Aku takut, sangat takut akan apa yang mungkin saja terjadi. Hingga akhirnya, langkahku terhenti di depan sebuah bangunan yang sudah hancur. Di antara puing-puing yang berserakan, aku melihat sosok yang sangat kukenal terbaring diam. Tubuhku langsung membeku, dan air mataku mengalir semakin deras saat aku menyadari siapa sosok itu.

Aku perlahan mendekat, lututku terasa lemas hingga akhirnya aku jatuh terduduk di depannya. “Ayah, Ibu..” panggilku lirih hampir tak terdengar. Aku mencoba membangunkan mereka, menggoyangkan tubuh mereka dengan perlahan. Aku menunggu, berharap mereka akan membuka mata dan memanggil namaku seperti biasa. Namun, tidak ada jawaban apapun yang kudengar. Aku mencoba mengingat kembali kenangan indah bersama kedua orang tuaku. Sekarang aku mengerti, perang tidak hanya menghancurkan tempat tinggalku, tetapi juga merenggut orang yang paling berarti dalam hidupku. Kini aku hanya bisa terdiam, sendirian tanpa siapapun. Aku berharap tidak ada lagi peperangan yang terjadi di dunia ini, agar tidak ada lagi anak yang merasakan kehilangan keluarga sepertiku.

 

Karya: Firdausi Rofia S. A

Kelas: 8C

Share: