Satu Nama

Satu Nama

Satu Nama

Sejak hari pertama karantina Olimpiade Sains Nasional, Arkana sudah merasakan tekanan yang berbeda. Bukan hanya karena tingkat soalnya yang jauh lebih sulit, tetapi juga karena kehadiran Ravindra, peserta favorit yang dikenal cerdas sekaligus licik. Di depan guru, Ravindra terlihat sopan dan rendah hati. Namun saat tidak ada pengawasan, kalimat-kalimatnya sering terdengar seperti racun yang halus.

“Level nasional itu nggak semua orang sanggup,” ucapnya suatu sore sambil menatap Arkana sekilas.

Sehari sebelum lomba, catatan rangkuman milik Arkana tiba-tiba menghilang dari meja asrama. Catatan yang ia susun selama berbulan-bulan itu lenyap begitu saja. Ia sempat melihat Ravindra berdiri tak jauh dari sana dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Tanpa bukti, Arkana hanya bisa menahan amarah dan mencoba mengingat kembali semua materi sepanjang malam tanpa tidur. Ia sadar, ia tidak punya waktu untuk menuduh ia hanya punya pilihan untuk bertahan.

Hari ujian pun tiba. Aula terasa mencekam. Ravindra terlihat tenang dan bahkan menyelesaikan soal lebih cepat, seolah ingin menunjukkan bahwa kemenangan sudah ada di tangannya. Sementara itu, Arkana masih berjuang pada satu soal terakhir ketika waktu hampir habis. Tangannya gemetar, pikirannya hampir kosong. Namun ia menolak menyerah. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat perjuangannya, lalu menuliskan jawaban terakhir tepat saat bel berbunyi. Malam pengumuman akhirnya datang. Layar besar menyala di tengah aula yang hening. Nama juara dua muncul terlebih dahulu: Ravindra. Tepuk tangan terdengar keras. Ravindra berdiri dengan wajah tegang, yakin bahwa hanya satu langkah lagi menuju puncak.

Namun layar belum berhenti.

Tulisan berikutnya muncul perlahan, terang, tak terbantahkan juara satu Olimpiade Sains Nasional adalah Arkana.

Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Arkana berdiri dengan napas bergetar. Ia melangkah maju menerima medali emas, menyadari bahwa kemenangan itu bukan sekadar mengalahkan saingan terkuatnya, melainkan membuktikan bahwa kerja keras dan kejujuran selalu mampu berdiri lebih tinggi daripada kelicikan.

Di detik itu, Arkana mengerti satu hal: menjadi nomor satu bukan hanya soal nilai tertinggi, tetapi tentang memilih tetap benar ketika jalan pintas terasa lebih mudah. Karena pada akhirnya, prestasi sejati lahir dari karakter yang kuat dan karakter itulah yang membawa namanya bersinar di baris paling atas.

Share: