Kursi Kakek di Hari Raya
Kursi Kakek di Hari Raya
Pagi Idul Fitri datang bersama suara takbir yang masih bergema dari masjid di ujung jalan. Rumah keluarga Raka sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Dari dapur, aroma opor ayam, rendang, dan ketupat yang baru matang memenuhi udara, membuat siapa pun yang datang langsung merasa lapar sekaligus rindu rumah. Sepupu-sepupu Raka berlarian di ruang tamu dengan baju baru mereka, sementara para orang tua sibuk menyiapkan piring kue lebaran. Di tengah keramaian itu, Raka berdiri sebentar memperhatikan semuanya. Hari raya selalu terasa hangat di rumah ini, tetapi pagi itu ada satu hal yang membuat suasananya terasa sedikit berbeda.
Di ruang tamu, semua orang mulai berkumpul untuk bersalaman. Namun mata Raka berkali-kali tertuju pada satu kursi kayu di sudut ruangan. Kursi itu biasanya tidak pernah kosong saat hari raya tiba. Setiap tahun, kakek selalu duduk di sana dengan peci hitamnya, memanggil semua orang berkumpul sebelum makan bersama. Dengan suara tenangnya, kakek akan memimpin doa Idul Fitri, sementara seluruh keluarga menundukkan kepala dengan khidmat. Tahun-tahun sebelumnya, suara doa itu selalu memenuhi rumah mereka. Tapi pagi ini, kursi itu hanya diam, dan suara yang biasanya memimpin doa tidak terdengar lagi.
Saat tiba waktunya makan bersama, ayah Raka berdiri dan memimpin doa menggantikan kakek. Semua orang menundukkan kepala dengan tenang, lalu perlahan kembali tersenyum setelah doa selesai. Sepupu-sepupu Raka mulai bercanda lagi sambil mengambil ketupat dan opor dari meja. Raka ikut tersenyum melihat keluarganya kembali ramai. Ia tahu, meski kursi itu kini kosong, kebersamaan keluarga mereka tetap hidup—seperti yang selalu diinginkan kakek setiap Idul Fitri. 🌙✨
Nabila Putri Widya (8B)
