Nobar Film Akal Imitasi Smpn 1 Gedangan Teguhkan Karakter Di Tengah Pesatnya Teknologi

Nobar Film Akal Imitasi, SMPN 1 Gedangan Teguhkan Karakter di Tengah Pesatnya Teknologi

Nobar Film Akal Imitasi, SMPN 1 Gedangan Teguhkan Karakter di Tengah Pesatnya Teknologi

Sidoarjo, Teknologi dapat membantu manusia belajar, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Pesan inilah yang menjadi refleksi utama dalam kegiatan nonton bareng (nobar) film Akal Imitasi yang diikuti siswa kelas VII, VIII, dan IX SMPN 1 Gedangan di Sun City, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam dua sesi, mulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB, menjadi alternatif pembelajaran luar kelas (outing class) untuk memperkuat pendidikan karakter melalui media film. Para siswa tidak hanya diajak menikmati tayangan, tetapi juga memahami pentingnya kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi, menjaga integritas, serta menghargai hubungan antarmanusia.

Dr. Aris Setiawan, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala SMPN 1 Gedangan menyampaikan bahwa pembelajaran tidak terbatas pada kegiatan di dalam kelas. Pengalaman belajar juga dapat diperoleh melalui kegiatan edukatif di luar sekolah, termasuk menonton film di bioskop.

Aris berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kebijaksanaan siswa dalam menggunakan teknologi digital, kejujuran dalam bertindak, toleransi terhadap sesama, serta kesediaan membalas kebaikan dengan kebaikan.

“Jadilah manusia yang beradab dan beretika. Jika adab dan etika kita sudah baik, maka dengan sendirinya ilmu akan dengan mudah masuk dan menetap dalam diri kita,” tutur Bapak Aris.

Iwan Arisanto, S.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, menjelaskan bahwa pembelajaran melalui film memberikan pengalaman visual dan auditori yang membantu siswa memahami persoalan kompleks secara lebih konkret. Menurut beliau, metode ini dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan realitas kehidupan generasi muda yang tumbuh berdampingan dengan perkembangan teknologi.

“Siswa tidak hanya membaca definisi ‘Kecerdasan Buatan (AI)’ di buku teks. Mereka melihat langsung dampak, risiko, dan aplikasinya melalui narasi visual yang konkret. Selain itu, alur cerita yang relevan dengan perkembangan zaman, dengan latar masa depan tahun 2029, sangat dekat dengan dunia generasi Alfa dan Z yang tumbuh besar berdampingan dengan teknologi,” tambah  Bapak Iwan.

Film Akal Imitasi sendiri mengangkat persoalan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dalam dunia pendidikan. Berlatar tahun 2029, cerita berpusat pada penerapan sistem pembelajaran berbasis AI bernama PIKO di SD Cendekia Bangsa. Teknologi yang semestinya membantu siswa belajar justru memunculkan kesenjangan antara mereka yang memiliki akses teknologi premium dan mereka yang menghadapi keterbatasan.

Kisah Neo (Arziqy Herdi Pratama) dan Ika (Zaskia Alya Kyla) menggambarkan persoalan tersebut. Ika, siswi cerdas dari keluarga sederhana, berjuang menghadapi keterbatasan hingga bertemu Rafi (Rance Allen Wright) di tempat misterius bernama BLOX HUB. Pertemuan itu mengubah cara pandangnya tentang belajar dan makna kecerdasan. Konflik semakin berkembang ketika sebuah perusahaan teknologi memburu Rafi demi menutupi rahasia besar yang berpotensi mengubah masa depan pendidikan.

Lewat kisah tersebut  yang menegangkan sekaligus menghangatkan hati, film ini menyampaikan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan karakter, empati, dan tanggung jawab. Kecerdasan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga oleh sikap bijaksana dan kepedulian terhadap sesama.

Hal ini selaras dengan penjelasan koordinator kegiatan, Meliana Suparmi, S.Pd., yang menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak boleh mengesampingkan kehadiran guru. Pendidikan harus tetap mengedepankan literasi, integritas, tanggung jawab, interaksi sosial, serta semangat belajar sepanjang hayat.

“Pendidikan karakter tidak bisa terbentuk tanpa kehadiran guru. Teknologi hanya sebagai sumber belajar, tetapi untuk nilai kemanusiaan memerlukan kehadiran guru,” ujar Ibu Meliana.

Kegiatan tersebut mengacu pada Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, serta Surat Edaran Kemendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 , Menteri Dalam Negeri Nomor 800.2.1/225/SJ, Menteri Agama Republik Indonesia No 1 Tahun 2025 serta SE KEMENDIKDASMEN Nomor : 0255/B/B.B1/KL.00.00/2026 tentang “Apresiasi Film Akal Imitasi”. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendidikan karakter melalui media film.

Melalui kegiatan tersebut, SMPN 1 Gedangan berupaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna dengan memadukan pengalaman, pengetahuan, dan pembentukan karakter. Wajah-wajah siswa yang tampak puas dan riang setelah menyaksikan film menjadi penanda berakhirnya kegiatan. Harapannya, mereka tidak hanya membawa pulang pengalaman menonton, tetapi juga kesadaran untuk menyeimbangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kepekaan sosial serta keluhuran budi pekerti.

Share: