Hari Santri Nasional
KEMILANG DI HARI SANTRI
Pagi itu, aku memasuki halaman sekolah dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Aku melihat banyak teman-temanku mengenakan baju berdominan putih. Aku mulai memasuki halaman sekolah dan menyalami guru yang bertugas pada pagi itu. Guru tersebut mengucapkan salam dan juga berkata, "Selamat Hari Santri Nasional."
"Ah... hari ini ternyata peringatan Hari Santri, aku lupa akan hal itu," pikirku saat berjalan menuju kelas. Saat di perjalanan, aku sempat terhenti karena aku tercengang saat melihat halaman tengah sekolah yang dihiasi dengan ornamen Islam dengan ciri khas hijaunya. Rasanya, melihat ornamen yang ada di lapangan tengah membuat hatiku terenyuh mengingat kebesaran Allah SWT.
Aku akhirnya sampai di kelas dan aku bertanya pada diriku sendiri, "Kegiatan apa yang akan dilakukan pada hari ini? Pasti sangat membosankan," balasku pada pertanyaanku. Saat aku sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri, tiba-tiba aku mendengar pengumuman bahwa siswa-siswi kelas 7 akan melakukan apel pada pagi itu, sementara siswa-siswi kelas 8 dan 9 mempersiapkan tempat untuk berzikir, shalat dhuha, dan juga bershalawat. Aku yang mendengar hal itu langsung tersenyum; ternyata hari yang aku pikir akan membosankan ini jauh berbeda dari apa yang aku bayangkan.
Aku dan teman-temanku mulai berjalan ke lapangan basket untuk melaksanakan apel peringatan Hari Santri Nasional. Hingga tidak terasa, rangkaian apel sudah sampai pada amanat pembina. Aku memperhatikan kata demi kata amanat yang disampaikan, hingga aku tersadar bahwa peringatan Hari Santri bukan hanya sekadar kita memperingati lalu pulang, tetapi kita semua bersujud dan merendah diri kepada Allah SWT.
Upacara selesai, aku kembali ke kelas lalu teringat bahwa setelah apel peringatan akan ada shalat duha bersama. Mengingat hal itu, aku bergegas mengambil wudu dan kembali ke kelas. Saat aku berjalan untuk kembali ke kelas, aku dipanggil oleh salah satu guru dan guru itu menyuruhku untuk memanggil kelasku agar segera ke lapangan tengah karena shalat duha akan segera dimulai. Akhirnya, aku kembali ke kelas dan langsung menyampaikan apa yang dikatakan guru itu. Teman-temanku yang mendengar hal itu langsung bergegas menuju lapangan tengah.
Setelah melakukan shalat duha, imam melafalkan niat sujud syukur. Dalam sujud itu, aku melafalkan semua kalimat kebesaran Allah SWT. Rangkaian demi rangkaian peringatan Hari Santri Nasional telah terlaksana, dan tidak terasa bahwa peringatan Hari Santri di sekolahku telah selesai.
Aku dan teman-temanku akhirnya dipulangkan. Kami semua siswa-siswi kelas 7, 8, & 9 membaca doa pulang. Mendengar hal itu, siswa-siswi kelas 7, 8, & 9 langsung berhamburan kembali ke kelasnya masing-masing untuk pulang. Aku sendiri juga begitu, tetapi aku harus menunggu jemputan. Dalam hal itu, aku mengingat-ngingat rangkaian kegiatan pada hari ini dan tersadar bahwa peringatan Hari Santri bukan hanya hari di mana para santri dirayakan, tetapi menjadi momen berharga untuk meresapi nilai-nilai keimanan, mempererat kebersamaan, dan menumbuhkan kecintaan yang mendalam kepada agama serta tanah air. Hari ini benar-benar membuktikan bahwa memperingati Hari Santri adalah sebuah kebanggaan yang kelak akan terus menerangi langkah kami di masa depan.
