Psikotes Siswa Kelas VII SMPN 1 Gedangan sebagai Dasar Pemetaan Potensi dan Gaya Belajar
Gedangan, SMPN 1 Gedangan melaksanakan psikotes bagi siswa kelas VII Tahun Ajaran 2026/2027 pada Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa kelas VII, mulai dari kelas VII A hingga VII I. Dilaksanakan sekitar 5 jam (07.00-12.00) di ruang kelas masing-masing.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 1 Gedangan, Iwan Arisanto, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kurikulum sekolah yang bertujuan untuk memetakan kemampuan akademik dan nonakademik siswa. Aspek yang dipetakan meliputi kemampuan intelektual (IQ), minat belajar, serta gaya belajar siswa. Menurut Iwan, hasil psikotes tersebut akan digunakan sebagai salah satu dasar dalam penyusunan strategi pembelajaran, termasuk penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Dengan demikian, proses pembelajaran diharapkan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing siswa. “Kedepan, hasil ini akan dijadikan salah satu dasar acuan untuk program lebih lanjut atau tes lanjutan,” ujar Iwan.
Senada dengan hal tersebut, salah satu guru Bimbingan dan Konseling (BK) sekaligus Koordinator Pendidikan Inklusif SMPN 1 Gedangan, Karsilah Krisawati, S.Pd., menjelaskan bahwa psikotes dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan dasar siswa yang baru memasuki jenjang SMP, termasuk kecenderungan gaya belajar utama, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Kegiatan serupa, menurutnya, dilaksanakan setiap tahun ajaran baru dan dapat dilanjutkan dengan tes lanjutan ketika siswa berada di kelas IX.“Hasil psikotes dapat dipengaruhi oleh kondisi siswa atau suasana hati saat mengikuti tes. Namun, hasilnya tidak akan mengalami perubahan secara drastis dan tetap berada dalam rentang yang relatif sama,” jelas Karsilah saat ditemui di ruang BK. Karsilah juga menegaskan bahwa hasil tes IQ tidak menjadi satu-satunya acuan dalam menilai kemampuan siswa. Kemampuan intelektual tetap dapat berkembang melalui proses belajar dan latihan yang konsisten. Sebaliknya, hasil tes yang tinggi tidak serta-merta menjamin pencapaian akademik apabila tidak diimbangi dengan kebiasaan belajar yang baik.
Penjelasan mengenai pelaksanaan psikotes juga disampaikan oleh tim penyelenggara dari Biro Psikologi Esenscia Creativa. Salah satu anggota tim, Ayu, menjelaskan bahwa psikotes dapat memberikan gambaran mengenai potensi siswa yang berkaitan dengan bidang pendidikan, pilihan karier, serta kesesuaian dengan bidang pekerjaan pada masa mendatang. Selain itu, beberapa instrumen dalam psikotes juga dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik kepribadian siswa. Dalam pelaksanaannya, siswa mengikuti beberapa jenis tes, antara lain tes grafis, tes kemampuan verbal, tes numerik, tes pengetahuan, serta tes menggambar. Masing-masing instrumen digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai aspek kemampuan dan karakteristik siswa. Ayu menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi hasil psikotes, di antaranya kondisi ruang kelas, lingkungan saat pelaksanaan, serta kondisi kesehatan siswa. Menurutnya, hasil tes memiliki tingkat keakuratan yang cukup tinggi apabila dilaksanakan sesuai prosedur dan didukung oleh kondisi pelaksanaan yang memadai. “Kami sudah lama menjadi rekan SMPN 1 Gedangan, sekitar tiga sampai empat tahun berjalan. Kami senang bisa bekerja sama dan membantu SMPN 1 Gedangan,” ujar Ayu.
Sementara itu, salah satu siswa kelas VII A, Muhammad Ardiak Nafiz Azzikri, mengaku cukup puas setelah mengikuti psikotes. Meskipun menurutnya durasi pelaksanaan tes cukup panjang dan melelahkan, ia tetap optimistis telah mengerjakan seluruh rangkaian tes dengan baik. “Saya merasa bisa mengerjakan dengan baik, walaupun sebenarnya membutuhkan waktu lebih agar dapat mengerjakannya secara optimal,” tutur Dika setelah mengikuti tes.
Pelaksanaan psikotes bagi siswa kelas VII SMPN 1 Gedangan menjadi salah satu langkah awal dalam memperoleh gambaran mengenai kemampuan, potensi, minat, dan karakteristik belajar siswa. Hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat mendukung sekolah dalam merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi secara optimal.
