Hari Hutan Nasional

Hari Hutan Nasional

Hari Hutan Nasional

Penyelamat Hutan Mangrove

Bagi anak-anak SMP Nusa Bangsa, sore hari adalah waktu untuk nongkrong atau bermain game. Namun tidak bagi Rehan. Ia lebih memilih pergi ke Pantai dengan celana gulung hingga lutut dan sepatu boots karet, ia tampak sibuk memungut sampah plastik yang tersangkut di antara akar-akar pohon mangrove.

“Rehan! Masih betah bersihin sampah? Mending ikut kita ke mall, yuk!" teriak Rian, teman sekelasnya yang lewat mengendarai sepeda motor bersama beberapa teman lain. Rehan hanya tersenyum, Bagi teman-temannya Rehan memang agak aneh karna memunguti sampah setiap harinya. Namun, Rehan punya alasan tersendiri. Dua tahun lalu, gelombang laut hampir merobohkan rumah neneknya akibat abrasi. Dari Pak Kasan, sang penjaga pantai, Rehan belajar bahwa benteng terkuat menahan ombak bukanlah beton, melainkan hutan mangrove.

Menjelang Hari Hutan Indonesia, Rehan ingin membuat gerakan nyata. Ia membeli 50 bibit mangrove dari tabungannya dan membuat video singkat tentang bahaya abrasi jika hutan mangrove musnah. Video itu diakhiri dengan ajakan:

"Hutan bukan cuma tentang gunung, tapi juga akar pantai yang menjaga tanah kita. Yuk, besok tanam bibit bareng!".

Sabtu pagi, Rehan sempat berkecil hati. Hanya ada dua temannya, Maya dan Dion yang datang. "Gak apa-apa, Han. Tiga orang juga cukup," hibur Maya. Namun saat mereka hendak melangkah ke lumpur, suara riuh terdengar dari jalan. Rian datang bersama puluhan siswa dari sekolah nya! Video Rehan ternyata viral di kalangan grup sekolah.

"Sori telat, Han! Video lu bikin kepikiran. Masa kita yang tinggal dekat pantai malah gak peduli?" seru Rian sambil membawa cangkul. Hari itu, tawa pecah di tengah pekatnya lumpur. Puluhan bibit mangrove berhasil ditanam dengan rapi. Rian menepuk bahu Rehan, "Makasih ya, Han. Kalau kamu gak mulai duluan, kita gak bakal pernah tahu betapa berharganya tempat ini."

Rehan tersenyum menatap barisan bibit hijau di tepi pantai. Ia sadar, keberanian untuk peduli tidak pernah sia-sia. Satu langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh bisa menjadi pemantik perubahan bagi banyak orang.

 

Karya Jihan Fairuz Qurrota A’yun

Kelas 8D SMPN 1 Gedangan

Share: