MPLS

MPLS

Sekolah Impian Sesungguhnya

​Rembulan malam seolah menjadi saksi bisu atas doa yang selalu dipanjatkan Kenny di sudut kamarnya yang sempit dan beratap bocor. Kenny terlahir di tengah keluarga dengan tekanan ekonomi yang serba berkekurangan. Walau terkekang dengan kondisi ekonominya yang sulit, gadis kecil itu memiliki mimpi setinggi langit. Pandangannya selalu terkunci pada megahnya gerbang sekolah SMP paling ternama di kotanya, sebuah istana impian tempat anak anak kalangan atas menuntut ilmu. Di balik jari jemari kasarnya yang mengusap lembut kepala Kenny, sang ibu mengukir sebuah janji manis, sang ibu berbisik lirih bahwa kelak ia pasti akan menyekolahkan putrinya di sekolah impian tersebut saat beranjak dewasa. Kenny kecil memegang erat erat janji itu dalam dadanya, menjadikannya setitik cahaya penerang di tengah gelap gulita kemiskinan yang mengepung hari hari mereka.

​Tujuh tahun bergulir secepat embun pagi yang menguap di pagi hari, merubah Kenny kecil menjadi sosok remaja berprestasi yang lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya. Debar dada yang tak menentu menyelimuti langkah kakinya menuju hari pertama sekolah, menantikan momen Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di tempat yang selama ini ia dambakan. Namun langkahnya seketika terhenti kaku, menyisakan raut wajah yang meredup kelam begitu tiba di depan pintu gerbang tujuan. Kenyataan pahit menghantam hatinya tanpa ampun, menyadari bahwa ia tidak berdiri di depan sekolah impian, melainkan sebuah sekolah pinggiran yang tampak usang dan sunyi. Seketika itu juga, harapan yang telah dibangunnya bertahun tahun runtuh menjadi puing puing kekecewaan mendalam terhadap janji manis sang ibu.

​Di tengah isak tangis yang mulai merintih, tangan hangat ibunya yang dipenuhi dengan sayatan kasar kembali memeluk bahu Kenny yang gemetar. Sang ibu menatap lekat mata putrinya dengan tatapan sedih. Beliau berbisik dengan nada lembut, menjelaskan bahwa kenyataan ekonomi yang menjerat mereka membuat sekolah ternama itu tetap menjadi mimpi yang mustahil digapai. Sekolah megah itu bukan hanya menuntut prestasi akademik yang gemilang, melainkan juga biaya selangit yang setara dengan kemewahan tempat belajar anak presiden. Penjelasan jujur itu menyadarkan Kenny akan perjuangan sunyi yang selama ini dipikul ibunya seorang diri demi menyambung hidup mereka.

​Awan mendung yang sempat menyelimuti Kenny seketika sirna, digantikan oleh sinar keceriaan yang kembali memancar dari senyum tulusnya. Ia membuang jauh jauh rasa cemberut dan kecewa yang sempat meracuni hatinya, setelah menyadari esensi sejati dari lembaran baru yang tengah dihadapinya. Masa MPLS yang akan segera ia lalui bukanlah tentang kemegahan gedung atau mewahnya sekolah, melainkan tentang keteguhan jiwa dalam berjuang yang telah dilalui demi mencapai masa MPLS ini. Sekolah pinggiran ini kini berubah menjadi gerbang penuh harapan baru yang siap menyambut jerih payah di jenjang yang lebih tinggi. Kenny menggenggam erat tangan ibunya dengan penuh rasa bangga, siap melangkah memasuki sekolah barunya.

 

Karya : Diandra Aiman Alfathzha(9B)

 

Share: