Tahun Baru Hijriyah.
Odong Odong Terakhir
Malam perayaan Tahun Baru Hijriyah selalu menjadi racun yang memicu amarah di dada Pak Kosim. Pria itu itu menggerutu kasar dengan penuh kerutan di wajahnya sambil menuntun odong odong usang melewati jalanan kampung yang lengang bagai kuburan. Hatinya semakin mendidih ketika melihat jalan banyak ditutup demi pasar malam yang penuh gemerlap dengan wahana wahana modern nan megah jauh telak menandingi odong odongnya yang telah usang itu. Pak Kosim sangat membenci malam raya ini, sebab tak akan ada satupun anak yang sudi melirik apalagi menaiki odong odong miliknya yang berderit ringkih, mereka pasti lebih memilih kemeriahan wahana pasar malam. Kemeriahan kembang api di kejauhan seolah menjadi ejekan bagi nasibnya yang sepi pembeli dan terjebak dalam rasa dengki yang mendarah daging.
Langkah kakinya yang berat terhenti ketika ia tanpa sengaja memasuki sebuah perkampungan padat yang justru diselimuti awan duka. Meskipun warga berkerumun di setiap sudut jalan, tak ada tawa apalagi perayaan meriah menyambut pergantian tahun Islam malam itu. Tiba tiba seorang wanita tua bertudung lusuh menghampirinya dengan langkah gemuruh dan rintihan air mata membasahi pipi keriputnya. Dengan suara bergetar yang menyayat hati, wanita itu memohon belas kasihan Pak Kosim untuk mewujudkan keinginan terakhir anak lelakinya sebelum ajal menjemputnya untuk naik odong odong yang telah lama ia dambakan. Hati Pak Kosim yang sekeras batu seketika luruh mendengar kenyataan bahwa kemiskinan membuat sang ibu tak mampu membayar sepeser pun walau itu keinginan terakhir anaknya. Mendengarkan belas kasihan pak Kosim, ibu itu sontak pergi menjemput sang anak yang tengah dikelilingi isak tangis perpisahan warga.
Tak lama berselang waktu, anak lelaki itu datang dengan wajah pucat bagai mayat hidup, namun bibirnya melengkungkan memberi senyum paling tulus yang pernah Pak Kosim lihat. Tanpa ragu, Pak Kosim mempersilahkan anak itu duduk di odong odong kecilnya dan mulai mengayuh pedal dengan semangat yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Seiring alunan musik odong odong yang berputar dari pengeras suara usang, senyum anak itu semakin memekar lebar mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Di tengah kayuhan itu, sang anak lirih bercerita tentang penyesalannya yang telah menyia nyiakan waktu tanpa berbuat kebaikan, karena baginya setiap pergantian Tahun Baru Hijriyah selalu berlalu begitu saja tanpa arti. Anak itu sadar bahwa sejatinya peringatan tahun baru Hijriyah itu adalah peringatan baginya untuk berbuat kebaikan. Sebagaimana makna tahun baru Hijriyah untuk berhijrah, meninggalkan keburukan masa lalu dan berpindah menjadi pribadi yang lebih baik.
Mendengar setiap bait penyesalan dari lisan kecil itu, dinding keangkuhan dan kemarahan Pak Kosim hancur berkeping keping tak bersisa. Segala rasa muak dan benci terhadap perayaan malam itu menguap, digantikan oleh kesadaran tajam akan betapa egoisnya ia selama ini. Pak Kosim kini menyadari bahwa makna hijrah yang sesungguhnya justru ia dapatkan dari seorang bocah malang di atas odong odong usangnya. Namun, di saat Pak Kosim baru menemukan hidayah, senyum anak itu mulai diiringi tatapan pasrah yang menyiratkan bahwa tak ada lagi sisa waktu baginya untuk menebus dosa. Anak itu hanya bisa terdiam menanti di atas wahana sederhana tersebut, tidak ada kesempatan lagi untuk berbuat kebaikan selain menunggu ajal menjemputnya di malam pergantian tahun yang gemerlap ini.
Karya: Diandra Aiman Alfathzha
Kelas: 8B
