Smpn 1 Gedangan Raih Juara 1 Dagelan Tunggal Ftbi 2026

SMPN 1 Gedangan Raih Juara 1 Dagelan Tunggal FTBI 2026

SMPN 1 Gedangan Raih Juara 1 Dagelan Tunggal FTBI 2026

Sidoarjo, 3 Juni 2026 , Prestasi membanggakan kembali diraih oleh SMPN 1 Gedangan dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026. Pada cabang lomba Dagelan Tunggal Bahasa Jawa tingkat Kabupaten Sidoarjo, Bima Arya, siswa kelas 8B SMPN 1 Gedangan, berhasil meraih Juara 1 dan mengungguli 32 peserta dari berbagai sekolah di Kabupaten Sidoarjo.

FTBI merupakan program nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai upaya pelestarian bahasa daerah. Kegiatan ini melibatkan siswa SD dan SMP melalui berbagai lomba kreatif, seperti pidato, mendongeng, macapat, menulis dalam bahasa ibu, hingga dagelan tunggal.

Keberhasilan yang diraih Bima menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya maupun sekolah. Ia mengaku tidak menyangka namanya akan diumumkan sebagai pemenang.

“Bahkan saya tidak sadar ketika nama saya dan SMPN 1 Gedangan dipanggil sebagai Juara 1 Dagelan Tunggal,” ungkap Bima dengan penuh haru.

Bima mengaku sangat senang dan bangga atas pencapaian tersebut. Kemenangan ini sekaligus mengantarkannya menjadi wakil Kabupaten Sidoarjo pada ajang FTBI tingkat Provinsi Jawa Timur.

Dalam perlombaan Dagelan Tunggal, terdapat beberapa aspek penilaian yang menjadi perhatian dewan juri, yaitu jumlah tawa per menit (45%), kekuatan materi yang meliputi orisinalitas, relevansi, dan pesan moral, penyampaian atau delivery yang mencakup intonasi, ekspresi, bahasa tubuh, serta interaksi dengan penonton, dan ketepatan waktu penampilan dengan durasi maksimal lima menit.

Menurut Bima, kunci keberhasilan dalam membawakan dagelan tunggal adalah rasa percaya diri, ekspresi yang menarik, serta kemampuan berimprovisasi.

“Saat latihan, kita harus selalu percaya diri, berani menampilkan ekspresi yang lucu, dan mampu berimprovisasi agar mendapatkan banyak gelak tawa serta tepuk tangan dari penonton,” ujarnya.

Pada tingkat provinsi nanti, Bima berharap dapat tampil lebih tenang dan percaya diri sehingga mampu memberikan hasil terbaik bagi Kabupaten Sidoarjo.

Bima mengungkapkan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari kerja keras selama masa persiapan. Ia menampilkan dagelan berjudul “Cek Khodam” yang dibuka dengan lantunan jula-juli khas Jawa Timur. Menurutnya, bagian pembuka tersebut menjadi nilai tambah yang mampu menarik perhatian penonton sejak awal penampilan. Ditambah dengan improvisasi cerita, ekspresi yang menghibur, serta penggunaan properti pendukung, penampilannya berhasil mencuri perhatian dewan juri dan penonton.

Guru pembimbing, Sulistianawati, M.Pd., menjelaskan bahwa proses persiapan dilakukan secara intensif selama hampir empat minggu.

“Kami berlatih dengan sangat keras. Pada minggu pertama latihan dilakukan tiga kali dalam seminggu. Minggu kedua intensitasnya ditingkatkan, sedangkan pada minggu ketiga dan keempat hampir setiap hari kami berlatih selama dua jam,” jelasnya.

Tidak hanya latihan tatap muka, evaluasi juga dilakukan melalui video latihan yang dikirim dan ditelaah setiap malam. Bahkan saat hari libur, pembimbing dan peserta tetap berlatih secara daring melalui Zoom.

Menurut Bu Sulis, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi yang kuat antara siswa dan tim pembimbing. Selain pendampingan dari guru Bahasa Jawa, proses latihan juga mendapat dukungan dari Aulia, guru PLP dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang sedang bertugas di SMPN 1 Gedangan. Bu Aulia berperan dalam pendampingan teknis penampilan, sementara Bu Sulis bertanggung jawab dalam penyusunan konsep, evaluasi, dan pengembangan materi lomba.

Dalam proses pembimbingan, Bu Sulis mengaku selalu memberikan evaluasi secara terbuka dan apa adanya demi perkembangan peserta didik.

“Saya memang keras, ceplas-ceplos, dan apa adanya dalam memberikan kritik. Namun, semua itu saya lakukan sebagai masukan agar siswa dapat berkembang dan tampil lebih baik,” tuturnya.

Bahkan beberapa hari menjelang perlombaan, Bu Sulis masih berani melakukan perubahan pada konsep dan alur cerita yang akan dibawakan. Keputusan tersebut terbukti tepat karena mampu membantu Bima mengeluarkan seluruh potensinya saat tampil di atas panggung.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin berlatih, serta kolaborasi yang baik antara siswa dan guru mampu menghasilkan pencapaian yang membanggakan. SMPN 1 Gedangan pun berharap keberhasilan ini dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus melestarikan budaya dan bahasa daerah melalui berbagai ajang prestasi.

 

Share: